MENGENAL LINUX
Apa dan Mengapa Linux
Linux (Kernelnnya saja) adalah sistem operasi komputer yang dibuat pertama kali oleh Linus Torvalds, seorang mahasiswa dari Finlandia pada tahun 1991. Linux didistribusikan secara bebas bersama program GNU (Gnu is Not Unix) lainnya dengan model lisensi GPL (General Public License). Saat ini, Linux telah berkembang sedemikian cepat sehingga ketersediaannya telah dilengkapi dengan banyak program untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari Office Suite semacam StarOffice hingga server web (misalnya Apache), email (misalnya Sendmail), database (misalnya PostgreSQL dan MySQL), dll. sehingga jadi GNU/Linux. Dalam suatu survey yang dilakukan situs www.netcraft.com (2003), Apache digunakan oleh lebih dari 60% web di Internet.
Karena bersifat modular, Linux dapat diinstall dalam sebuah disket untuk dijadikan router pada PC 486, misalnya. Linux juga dapat dipasang pada palmtop, laptop, PC, Macintosh, hingga mini komputer seperti SUN Sparc dan IBM RS/6000, bahkan juga di mainframe seperti S/390. Sekedar contoh, bila hanya sebagai server email, Linux dapat bekerja dengan RAM 8MB. Dengan prosesor cukup 486, Linux dapat dijadikan sebagai X-Window terminal dengan kecepatan server Pentium IV, misalnya.
Untuk kondisi Indonesia, kelebihan Linux adalah penghematan biaya, yang berlaku baik di lingkungan pemerintah, pendidikan maupun bisnis. Perincian sisi penghematan dalam hal ini antara lain sebagai berikut:
•Biaya perangkat keras.
•Lisensi perangkat lunak.
•Perjanjian dukungan teknis.
•Biaya paket perangkat lunak, up-grade dan service.
•Biaya up-grade parangkat keras.
•Keuntungan yang hilang ketika sistem down.
•Biaya yang harus dikeluarkan ketika data hilang karena kesalahan program di sistem operasi atau perangkat keras yang dipersyaratkan oleh sistem operasi.
•Biaya yang harus keluar karena gangguan virus.
•Biaya untuk personal yang menangani sistem administrasi.
Sampai Kapan Linux akan Free?
Seperti umumnya software, Linux juga memiliki lisensi, yaitu GPL. Lisensi GPL dikonsep oleh Free Software Foundation yang didirikan Richard Stallman (yang pernah memberi seminar di Jakarta dan Yogyakarta, Nopember 2002). Inti dari maksud lisensi ini adalah kebebasan untuk menggunakan, mempelajari kode programnya, mendistribusikan, mengubah atau mengembangakan dan seterusnya. Salah satu syaratnya, tidak menghilangkan lisensi-nya dan harus menyediakan source code (kode sumber program). Artinya, sampai kapanpun, lisensi GPL akan tetap GPL. Untuk mengekspresikan makna kebebasan ini, lisensi GPL sering disebut copyleft sebagai "saingan" dari istilah copyright yang biasanya bermakna pembatasan. Meskipun GPL atau copyleft, hak cipta atas program tetap ada pada penciptanya, bukan public domain.
Yang mungkin terjadi, Anda membuat program baru yang bukan turunan program GPL, maka program baru tersebut tidak harus GPL. Contoh program yang dibuat untuk berjalan di Linux, tapi tidak GPL, adalah StarOffice dan beberapa software canggih seperti VMWare dan Oracle. Atau ada yang mau membuat seperti Linux tapi tidak berlisensi GPL, bisa saja.
Kelebihan Software Open Source
Bagi para pengembang software di Indonesia, open source merupakan peluang untuk belajar software dan mengembangkannya untuk kebutuhan umum dan spesifik Indonesia. Contohnya WinBI (Window Berbahasa Indonesia) yang berbasis Trustix Merdeka, yaitu suatu distribusi Linux yang dikembangkan di Indonesia berdasarkan distribusi Trustix Secure Linux (Norwegia) dan RedHat (Amerika). Banyak prestasi Anak Negeri yang tidak dapat kami sebut semuanya, antara lain adalah NontonVCD, VCD player di Linux, dan Warnet Billing Systems atau sistem pembayaran dan penghitungan pemasukan/pengeluaran untuk Warnet atau Intranet.
Pengembangan software open source disebut oleh Eric Steven Raymond sebagai sistem bazaar, yaitu dibuat secara gotong-royong atau keroyokan oleh para programmer/hacker dari seluruh dunia. Tidak terbatas oleh kelompok atau perusahaan tertentu, seperti pengembangan software closed source yang disebut sebagai sistem cathedral. Dengan sisem bazaar, pengembangan software seperti Linux menjadi sangat cepat maju, termasuk cepat diperbaiki bila ada cacat atau kekurangannya. Pada tulisan yang lain, "Cara Menjadi Seorang Hacker," Eric S. Raymond mengatakan, "Tidak seharusnya masalah yang sama dipecahkan dua kali. Otak yang kreatif merupakan sumber daya yang berharga dan terbatas. Tidak seharusnya sumber daya ini diboroskan hanya untuk memikirkan kembali suatu persoalan dari dasar. Padahal ada begitu banyak masalah menarik baru lain di dunia ini yang menanti." Artinya, suatu program yang telah dibuat seorang programmer tidak perlu disusun ulang oleh orang lain, tetapi cukup disempurnakan atau orang lain tersebut memikirkan untuk membuat program yang baru lagi.
Penjualan produk open source akan memberi nilai lebih bagi pembuat maupun pelanggan. Pembuat program akan memperoleh keahlian yang belum tentu dimiliki oleh orang lain, sehingga dapat memberikan tambahan-tambahan sesuai permintaan pelanggan. Pembuat juga memperoleh kepercayaan dan keunggulan nama daripada pihak lain yang hanya meniru atau mengikutinya. Sedangkan bagi pelanggan, kelebihan yang diperoleh antara lain (5):
•Dapat menjaga investasinya dalam bidang software, tidak tergantung pada sebuah vendor.
•Lebih memahami kerja dari suatu software, sehingga tidak terlalu tergantung pada dokumentasi yang tersedia.
•Dapat melihat dan mencari kelemahan software, bahkan dapat memperbaikinya bila mau. Update biasanya jauh lebih cepat tersedia daripada closed software.
•Dapat memindahkan software tersebut ke sistem operasi yang lain atau yang baru atau pada hardware yang berbeda.
•Dapat menggunakan source code untuk membuat aplikasi yang disesuaikan kebutuhannya.
Beberapa Alasan Pengembang Open Source
David Faure (salah satu developer KDE, web browser Konqueror dan word processor Kword) menyampaikan alasannya, antara lain: senang karena banyak orang memakai programnya, lalu banyak orang mengucapkan terima kasih (dan memberinya pekerjaan, pen.), mendapat penghargaan dari komunitas (menjadikan terkenal, pen.), menambah motivasi untuk membuat sesuatu yang lebih baik, menyumbangkan karya agar semua software untuk tujuan umum menjadi GPL atau Free. Budi Rachmanto (penerjemah Mandrake), Eko Bono Supriyadi (pembuat KEIrc) dan MDAMT (Pembuat NontonVCD) merupakan beberapa contoh orang Indonesia yang merasa bahagia karena terlibat dalam dunia Open Source.
The Boston Consulting Group/OSDN Hacker Survey (release 0.73, July 21, 2002) melakukan survey terhadap SourceForge users. Pengelompokkan berdasarkan motivasi programmer Open Source antara lain sbb.:
a.Believers (19%): believe source code should be open.
b.Learning and Fun (29%): for non-work needs and intellectual stimulation.
c.Hobbyists (27%): need the code for a non-work reason.
d.Professionals (25%): for work needs and professional status.
Peluang Kerja dan Bisnis
Jika kita perhatikan spesifikasi atau persyaratan dalam iklan lowongan kerja di bidang teknologi informasi, pengetahuan tentang Linux sudah merupakan kriteria umum. Dalam bulan Januari 2003 saja, saya melihat ada kebutuhan tenaga kerja yang punya kemampuan Linux paling tidak 20 orang dari 4 perusahaan berbeda (pendidikan, konsultan dan pengembang software), namun belum terpenuhi semua karena kelangkaan SDM Linux.
Ketersediaan yang lengkap dan terbuka ini dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk menciptakan peluang usaha-usaha baru. Dengan tidak adanya perusahaan yang memonopoli usaha berbasis Linux, peluang sangat terbuka dalam bisang usaha sebagai berikut:
1.Penyedia dukungan teknis (technical support) bagi perusahaan pemakai Linux.
2.Pengembang software dan system integrator.
3.Pengembang jaringan (Warnet, LAN, WAN dan VPN).
4.Pengembang hardware untuk tujuan khusus (misalnya embedded systems, kontrol industri, router, SMS gateway, dll.).
5.Penyedia jasa pendidikan dan pelatihan.
6.Internet Service Provider.
7.Web design, web programming, web hosting, dll.
8.Jasa pendukung: penerbitan buku/majalah dan penyedia aksesoris: CD, kaos, topi, dll.
Contoh Perusahaan/Lembaga Pengguna Linux *)
1.Rumah Sakit: Pertamina Jaya, Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dll.
2.Supermarket: Ramayana, Makro, IndoMart, dll.
3.Penerbangan: Garuda Indonesia, Indonesian Airlines, dll.
4.Industri lainnya: United Tractors, Rekayasa Industri, Indorama, Konimex, dll.
5.Jasa Akses Internet (ISP): Indonet Group, dll.
6.Pertambangan: Pertamina, Premier-Oil, BP, Kondur, dll.
7.Telekomunikasi: Ratelindo, PSN, Telkom, dll.
8.Lain-lain: oto.co.id (e-commerce), FIF (keuangan), Detik.com (portal), dll.
*) Sumber dapat dipercaya berdasarkan komunikasi pribadi (japri), tidak untuk dipublikasikan :-)
Penutup
Tidak ada halangan bagi dunia usaha Indonesia untuk menggunakan software yang baik, tanpa harus membajak, yaitu dengan memanfaatkan software open source yang mudah didapatkan dengan harga murah. Linux sebagai salah satu produk open source dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhaan dan kemampuan finansial lembaga pemerintah, pendidikan dan bisnis di Indonesia. Kekurangan dalam hal dukungan teknis terhadap produk open source memberikan peluang kerja dan usaha yang terkait. Ketersediaan source code juga merupakan kesempatan untuk menguasai teknologi informasi atau meningkatkan kemampuan sumber daya manusia sehingga dapat dimanfaatkan dalam menghadapi persaingan global. Penguasaan software open source telah dan akan menjadikan bangsa Indonesia diakui setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Solusi dengan Linux dan Open Source ini sangat tepat untuk menghadapi diberlakukannya UU HAKI mulai 29 Juli 2003 ini. Coba kita hitung, sebuah komputer perlu sistem operasi dan aplikasi Office saja, akan membutuhkan biaya Rp 4 juta. Jika di Indonesia ada 4 juta komputer, berarti butuh Rp 16 trilyun untuk membayar lisensi sistem operasi dan aplikasi perkantoran. Ini belum termasuk aplikasi untuk server dan pemrograman. Luar biasa, bukan?
Lihat Gambar Perbandingan antara Aplikasi di Windows dan Linux